Selasa, April 05, 2011

Wanita ibarat EPAL

EPAL yang tak berkualiti amat senang diperoleh
kerana ia berguguran di tanah

...tapi.. EPAL yang tak mampu dibeli berada di puncak
susah dipetik susah digapai

terkadang EPAL itu risau
kenapa diriku belum dipetik?
lantas ia merendahkan martabatnya
dan mengugurkan diri menyembah tanah
sedangkan telah Allah jadikan ia begitu tinggi martabatnya
hingga tiada siapa yang berani memetiknya

hanya PEMUDA yang benar-benar hebat sahaja
yang TAQWA kepada RABBnya
yang mampu menggapainya"

Kutipan Favorit Ana ImaraH 

Senin, April 04, 2011

kebahagiaan

Kebahagiaan adalah suatu kata yang begitu singkat, memiliki makna yang sangat luas. Sebuah kata yang maknanya didambakan semua makhluk yang bernama manusia.
Banyak jalan yang ditempuh oleh manusia untuk memiliki makna yang terdapat dalam kata bahagia. Kebahagiaan laksana barang hilang yang dicari-cari oleh kebanyakan manusia. Ia akan dicari dalam setiap masa dan tempat.

Dengan berbagai cara, manusia mencari kebahagiaan. Ada yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, ada pula yang mengejar popularitas.

Di Manakah Kebahagian ?
Apakah kebahagiaan itu terdapat pada kekayaan dan kemewahan hidup?
Tidak sedikit manusia yang memliki asumsi demikian, mereka mengira bahwa kebahagiaan terdapat pada kekayaan, kemewahan hidup, harta yang melimpah ruah, dan kesejahteraan hidup.

Tapi kenyataannya, persepsi ini bahkan terkadang terbalik. Harta yang melimpah, ketenaran, akan menjadi bencana bagi pemiliknya di akhirat.

Allah سبحانه وتعلى berfirman tentang orang munafik,
"Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir." (QS. At-Taubah: 55).

Siksa yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesengsaraan, rasa sakit, keresahan dan penyakit. Kasus inilah yang menimpa orang yang menjadikan harta dan dunia sebagai cita-cita utamanya dan puncak asanya. Dia akan selalu sakit hati, terkena tekanan jiwa, bingung, pikiran dan nuraninya tidak tenteram.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menggambarkan jiwa tersebut dalam satu sabdanya,
مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, maka Allah akan menjadikan dia orang yang kaya hati, mengumpulkan kekuatannya, dan dunia akan mendatanginya sedangkan dia tidak suka. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya Allah akan menjadikan kefakiran di depan kedua bola matanya, mencerai-beraikan kekuatannya. Dan dia dikarunai dunia tidak lebih lebar dari kadar yang memang sudah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmizdi. Dinyatakan shahih oleh Al Albani).

Harta bisa saja membawa kebahagiaan, asalkan memenuhi kedua syarat berikut ini:

Pertama; harta benda yang halal, yang didapatkan oleh seseorang atas kerja keras dan keringatnya sendiri.

Kedua; harta yang tidak digunakan untuk kejahatan.

Jika kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka harta hanya akan menjadi bencana bagi pemilkinya.

Sumber Kebahagiaan Hakiki
Islam sebagi din yang sempurna telah memberikan kepada ummat manusia jalan atau cara untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Dan di antara sumber kebahagiaan tersebut adalah:

1. Kebahagiaan terdapat pada keimanan
Kebahagiaan tidak terletak pada harta yang melimpah ruah, tidak juga pada pangkat yang tinggi, bukan pula pada jumlah anak yang banyak, bukan karena keberhasilan mendapatkan kepentingan dan tidak pula pada ilmu material.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang timbul dari diri manusia, tidak datang dari luar manusia. Jika kebahagiaan diibaratkan pohon, maka tempat tumbuhnya adalah jiwa dan hati manusia, sementara percaya kepada Allah سبحانه وتعلى dan hari akhir adalah tempat tinggalnya, makanannya, ventilasinya, cuacanya, dan cahanya.

Orang yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعلى, sebagi tempat bertumpu, tempat bersandar dan sebagai pemberi pertolongan saat berada dalam kesulitan, maka dia laksana bangunan tanpa pondasi dan rumah tanpa tiang. Karenanya, kita melihat orang yang paling sengsara dalam hidup ini adalah mereka yang banyak membangkang. Mereka memiliki harta benda yang melimpah ruah, memperoleh rejeki yang banyak, tapi jika tertimpa musibah mereka pasti gelisah. Karena sudah menjadi tabiat jiwa pasti takut kehilangan sesuatu yang ia miliki.

Iman adalah tempat bertumpu manusia yang dapat dipercaya, yang dapat dijadikan tempat berlindung jika kehidupan ditimpa badai dan dikelilingi kegelapan.

2. Kebahagiaan terdapat pada ketenangan jiwa.
Diyakini bahwa ketenangan jiwa merupakan sumber utama yang dapat melahirkan kebahagiaan.

Selama di dunia, orang non Muslim disibukkan dengan keinginan dan tujuan yang beraneka ragam. Dia kebingungan, bagaimana dia harus menyinkronkan antara memenuhui keninginan hawa nafsunya dan mengikuti tuntutan masyarakat di sekitarnya. Sementara orang Mukmin terlepas dan terbebaskan dari semua itu, dan mengakumulasikan seluruh targetnya dalam satu target, yaitu untuk mendapatkan ridha Allah سبحانه وتعلى. Dia tidak peduli apakah manusia ridha atau murka. Yang penting Allah سبحانه وتعلىridha.

Tidak ada yang lebih lapang dari dada dan hati seorang Mukmin dan tidak ada yang lebih sempit dari dada seorang yang membangkang dan meragukan keberadaan Allah سبحانه وتعلى dan hari akhir.

"Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 22-23).

Dan di antara faktor utama yang bisa membuat seseorang kehilangan ketenangan jiwa (resah) adalah orang yang menyesali masa lalunya. Tidak mau menerima realita dan pesimis terhadap masa depan.

3. Kebahagiaan terdapat pada qanaah dan wara'
Qanaah adalah sikap menerima apa adanya. Adapun wara' adalah sikap berhati-hati terhadap segala hal yang dilarang oleh Allah سبحانه وتعلى dan hal-hal yang tidak jelas halal haramnya (syubhat).

Orang-orang yang qanaah mau dengan lapang dada mengambil bagian terkecil dari kenikmatan yang diberikan kepada mereka untuk menyisakan bagian kepada orang lain, agar ikut merasakan kebahagiaan seperti yang mereka rasakan.

Sa'ad bin Abi Waqqash pernah berkata kepada anaknya, "Hai, Anakku! Jika kamu menginginkan kekayaan, maka carilah dengan qanaah. Jika kamu tidak memiliki sifat qanaah, kamu tidak akan pernah merasa kaya, meski sudah memiliki harta sebanyak apa pun."

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa di antara kalian merasa hatinya tenteram, jasmaninya sehat, dan tercukupi kebutuhan sehari-harinya, maka seolah-olah dikumpulkan untuknya dunia dan seluruh isinya." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dinayatakan hasan oleh Al Albani).

Betapa bahagianya orang yang dikaruniakan nikmat oleh Allah سبحانه وتعلى sementara dia termasuk bagian dari orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat.
4. Kabahagiaan ada pada kepandaian mensyukuri nikmat
Sebagai salah satu bentuk kelalaian adalah jika kita baru merasakan nikmat Allah سبحانه وتعلى setelah nikmat tersebut lenyap dari hadapan kita, padahal kita tahu bahwa nikmat bisa kekal dengan cara disyukuri. Dan dia akan hilang dengan pengingkaran.

Allah سبحانه وتعل berfirman, artinya:
"Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7).

Abu Hazim berkata, ”Setiap nikmat yang tidak membuat orang yang menerimanya lebih dekat kepada Allah, maka nikmat tersebut merupakan musibah."

5. Kebahagiaan ada pada rasa malu
Malu adalah sikap menahan dan menghindarkan diri untuk melakukan semua hal yang tidak disukai Sang Khalik.

Rasa malu dapat memproteksi seseorang agar tidak terjerumus ke dalam lumpur dosa dan kemungkaran. Orang yang tidak mempunyai rasa malu tidak akan pernah melakukan bentuk kebaikan dan keutamaan apa pun.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
”Rasa malu itu bagian dari iman, sedangkan orang yang beriman dijamin masuk surga. Ucapan tidak sopan bagian dari bentuk perangai yang kasar, orang yang mempunyai perangai kasar tempatnya di neraka." (HR. Ahamad dan Tirmdzi).

Seorang bijak pernah berkata, “Barangsiapa yang mengenakan pakaian malu maka orang-orang tidak akan pernah melihat celanya.makasih.


Kiriman :pak muadz Rusli

bingkisan umtuk pengantin

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” [QS.30:21]

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada sosok yang pribadinya adalah al-Qur`an (yang berjalan), juga kepada keluarga dan sahabatnya hingga hari Kiamat. Amma ba’du :
Sesungguhnya pernikahan merupakan ikatan suci dan perjanjian merekat kuat. Fitrah-fitrah yang lurus mengarah kepadanya, hukum-hukum syariah yang bijaksana mengajak kepadanya. Selama jiwa-jiwa manusia berjalan bergandengan dengan fitrah, maka ia akan terus merespon tuntutan hukum ini. Maka melalui pernikahan tergapailah kasih sayang, ketentraman, ketenangan. penyatuan, dan berhimpunnya hati, berorientasi kepada keturunan. Keutamaan pernikahan banyak sekali dan bentuk keberkahannya pun beraneka ragam.

Sodara sodari muslim dan muslimah :
Pernikahan merupakan ladang untuk menanam benih keturunan, dan merupakan peristirahatan jiwa, kesenangan hidup, ketentraman hati, dan penjaga anggota tubuh. Sebagaimana ia juga sebagai sebuah kenikmatan, relaksasi dan sebagai sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pula sebagai tirai, perisai dan fasilitator untuk memperoleh keturunan yang soleh (adz-dzurriyah ash-shalihah) yang memberikan manfaat kepada manusia di kala hidup dan setelah kematiannya.

Pernikahan merupakan suatu urgensi yang mendesak, dimana manusia tidak akan sampai pada tingkat kesempurnaan jika ia masih setengah agamanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Jika seorang hamba menikah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan setengah agamanya. (Karenanya) bertakwalah kepada Allah pada bagian setengah agama yang tersisa. ” [HR. Ahmad].

Sesungguhnya Islam sangat menganjurkan jenjang pernikahan ini dan memberikan motivasi ke arah itu dalam kebanyakan kesempatan di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah. Ini tidak lain karena strategisnya kedudukan pernikahan di dalam Islam. Ia memiliki banyak manfaat bagi personal maupun masyarakat. Kepada sodara sodari muslim disampaikan beberapa faidahnya secara ringkas :

-Pernikahan merupakan kecenderungan naluriah bagi orang mukmin.
Firman Allah :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” [QS.30:21]

Ayat ini mengindikasikan kepada pengertian ketenangan (ath-thuma`ninah) dan rasa aman (al-aman). Hal itu tidak terjadi melainkan dengan kecenderungan untuk menikah.

-Pernikahan merupakan kesenangan hidup.
“Dunia adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” [HR. Muslim]

-Pernikahan merupakan perisai dari kerusakan dan fitnah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Seandainya ada seorang yang kalian sukai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang, maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan (hal tersebut), akan terjadi fitnah di permukaan buni ini dan kerusakan yang besar.” [HR. Muslim]

-Pernikahan termasuk pondasi-pondasi kebahagian terpenting. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Empat (fundamental) kebahagiaan seseorang, (yaitu:) wanita solehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang soleh, kendaraan yang nyaman.” [HR. Ibnu Hibban]

-Pernikahan merupakan sebaik-baik perbendaharaan dunia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Sebaik-baik yang dimiliki seseorang adalah wanita solehah, jika memandang ke arahnya, maka ia menyejukkannya. Jika memerintahkannya, ia mena’atinya. Jika ia tidak di rumah, maka ia menjaganya.” [HR. Ahmad]

-Pernikahan termasuk seutama-utamanya kebaikan dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Sebaik-baik yang dimiliki seseorang adalah wanita solehah. Jika dipandang menyejukkannya. Jika diperintah mena’atinya. Jika tidak di rumah, maka ia menjaga (amanah)nya.” [HR. Ahmad]


-Pernikahan merupakan asas ketulusan dan kehidupan yang baik. Salah seorang salafus soleh berkata :

“Aku dapati manusia yang paling berbahagia di dunia, paling sejuk dipandang mata, paling baik kehidupannya, paling mendalam kebahagiaannya, paling tulus keadaannya, dan yang paling merasa muda, (yaitu) orang yang dikaruniakan oleh Allah dengan seorang istri muslimah yang amanat, menjaga diri, baik, lembut, bersih, taat. Jika suaminya menitipkan amanat kepadanya, didapatinya sebagai wanita yang amanah. Jika anggaran belanjanya terbatas, didapatinya sebagai wanita yang qana’ah. Jika suami tidak di rumah, maka ia menjaga kepunyaan suaminya. Sesungguhnya kesantunannya menutupi kebodohannya, dan agamanya menghiasi akalnya, maka suaminya adalah seorang yang kehidupannya sejahtera, dan tetangganya adalah seorang yang selamat (dari gangguan).”

-Pernikahan memiliki manfaat-manfaat setelah kematian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Jika anak Adam meninggal dunia terputuslah amalannya,kecuali dari tiga perkara, (yaitu:) dari sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang soleh yang mendoakan baginya.” [HR. Muslim]

Oleh  :Muh.robbi ali marzuki 

Muhasabah

Pentingnya Bermuhasabah

Muhasabah berasal dari bahasa Arab yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikkan dengan menilai diri sendiri. Dalam melakukan muhasabah, seorang Muslim menilai dirinya, apakah dirinya lebih banyak berbuat baik (beribadah) ataukah malah lebih banyak berbuat jahat (bermaksiat) dalam kehidupan sehari-hari. Dia mesti objektif melakukan penilaian, dengan menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai landasan utama untuk melakukan penilaian, bukan berdasar keinginan hawa nafsunya.

Idealnya seorang muslim melakukan muhasabah tiap hari. Menjelang tidur, kita mengevaluasi diri kita, apakah kita hari ini sudah melakukan banyak kebajikan atau kejahatan? Seberapa banyak kejahatan yang kita lakukan? Seberapa banyak kebaikan yang kita perbuat? Dan bukan sebagaimana anggapan orang pada saat ini yang mengatakan bahwa waktu yang paling tepat untuk mengintrospeksi perbuatan yang telah kita kerjakan hanya di akhir tahun atau pada saat adanya bencana. Taruhlah jika anggapan itu benar, maka bagaimana nasib orang yang ketika hidupnya belum sempat mendapatkan “akhir tahun”? Wallahul Musta’an.

Abdul Aziz bin Abi Rawwad menyatakan bahwa manusia ada 3 golongan:
1. Golongan beruntung, jika hari ini lebih baik dari hari kemarin. Maksudnya, amal perbuatannya hari ini lebih baik dari hari kemarin.

2. Golongan merugi, jika hari ini sama dengan hari kemarin. Dengan demikian, amal perbuatannya hari ini sama dengan hari kemarin.

3. Golongan celaka, jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Ini berarti, amal perbuatannya hari ini lebih sedikit atau dosa yang diperbuatnya lebih banyak dari hari kemarin.

Maka dimanakah kita diantara ketiga golongan tersebut?
Metode yang bagus untuk mengatasi kekuasaan nafsu ammarah atas hati seorang mukmin adalah dengan selalu mengintrospeksi dirinya. Hal itu pun telah banyak disebutkan oleh para ulama, di antaranya Hasan al-Bashri—rahimahullah—berkata, “Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia mengintrospeksi dirinya sendiri karena Allah. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang telah mengadakannya di dunia. Sebaliknya hisab akan berat bagi kaum yang menempuh urusan ini tanpa pernah berintrospeksi."

Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhud dan at-Tirmidziy dalam Sunannya meriwayatkan secara mauquf dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata,

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab! Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang! Sesungguhnya berinstropeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan dari pada hisab kemudian hari.”

Begitu juga dengan hari ‘aradh (diperlihatkanya amalan seseorang) yang agung. Allah سبحانه وتعلى berfirman (artinya),

"Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh… . (QS. Ali Imran: 30).

Jadi benarlah adanya, bagi setiap orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعلى dan hari akhir untuk tidak melupakan introspeksi kepada dirinya, kerena dari situ seseorang bisa mengetahui kinerjanya dalam beramal shaleh dan bermaksiat.

Muhasabah Sebelum Beramal dan Sesudah Beramal
Sebelum kita berbuat (beramal), sebagai orang yang mempunyai akal, tentunya kita berpikir bahwa untuk memulai suatu pekerjaan bagusnya bagi setiap orang itu menanyakan kepada dirinya terlebih dahulu. Untuk apa sebenarnya dia melakukan amalan tersebut? Dan untuk siapa dia melakukannya? Karena begitu banyak orang yang tergesa-gesa melakukakan suatu pekerjaan tanpa memikirkan mudharat dan maslahatnya, sehingga ketika telah melakukan pekerjaan tersebut barulah dia menyesali perbuatannya. Ada kaedah yang menyebutkan:

مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ

Barang siapa yang tergesa-gesa untuk memperoleh sesuatu sebelum waktunya, maka dia dihukum dengan tidak mendapatkan hal tersebut.

Muhasabah sebelum beramal, juga berkaitan dengan apa yang telah disebutkan oleh Imam al-Bukhari dalam Kitab Shahihnya yaitu bab Al 'Ilmu Qablal Qauli wal 'Amal (berilmu sebelum berkata-kata dan beramal). Oleh karena itu, seyogyanya setiap orang mengetahui ilmunya terlebih dahulu kemudian beramal dengannya. Apatah lagi itu perkara agama, maka wajib hukumnya bagi setiap kaum Muslimin untuk mengetahuinya.

Jadi muhasabah sebelum beramal adalah hendaknya setiap orang berhenti sejenak dan merenungkan di saat pertama munculnya keinginan untuk melakukan sesuatu, tidak bersegera kepadanya sampai benar-benar jelas baginya bahwa melakukannya lebih baik dari pada meninggalkanya. Hasan al-Bashri—rahimahullah—berkata, "Seorang hamba berpikir di saat pertama ia ingin melakuan sesuatu. Jika itu karena Allah, ia lanjutkan. Dan jika bukan karena-Nya, ia menangguhkannya."

Dan perkataan Hasan al-Bashri ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam.".

Imam An-Nawawi memaknai hadits di atas dengan maksud, “Jika seseorang ingin berbicara dan pembicaraannya adalah sesuatu yang baik, benar, berpahala, baik wajib maupun sunnah, maka silahkan ia bicara. Tetapi jika belum jelas baginya bahwa pembicaraan itu baik dan berpahala, maka hendaknya ia diam, baik itu pembicaraan yang haram, makruh, atau pun mubah.”

Imam As-Syafi’i juga memahami makna hadits di atas, "Jika seseorang ingin berbicara hendaknya ia merenungkannya. Bila jelas tidak ada mudharatnya, berbicaralah ia. Namun sebaliknya, bila jelas baginya mudharat hendaknya ia tidak berbicara."

Sebagian ulama salaf lainnya juga menjelaskan perkataan Hasan al-Bashri di atas, yaitu ketika seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu amalan, pertama-tama ia harus merenung, apakah amalan itu mampu ia kerjakan atau tidak? Jika tidak ada kemampuan untuk itu, hendaknya ia berhenti. Tetapi jika ia mampu, hendaknya ia berpikir ulang, apakah melakukannya lebih baik dari pada meninggalkannya, ataukah sebaliknya? Jika yang ada adalah kemungkinan yang kedua, maka ia mesti meninggalkannya. Akan tetapi jika yang pertama, hendaknya ia bertanya, apakah faktor pendorongnya adalah untuk mendapatkan wajah Allah سبحانه وتعلى dan pahala-Nya, ataukah untuk mendapatkan kehormatan, pujian dan harta benda semata?

Maksud dari semua itu, hendaknya setiap orang yang ingin melakukan suatu pekerjaan memuhasabah dirinya terlebih dahulu sebelum mengamalkannya agar pelakunya tidak sia-sia mengerjakan perbuatan tersebut.

Hidup di Dunia Hanya Sementara
Firman Allah سبحانه وتعلى (artinya),

"Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)." (QS. Al-Anbiyaa': 1).

Alangkah beruntungnya siapa pun yang saat ini semakin tersentakkan kesadarannya bahwa satu hal yang paling mahal dalam hidup ini ialah ketika mengetahui kehidupan di dunia hanya sementara. Ya, hidup ini hanya satu kali.

Adapun ujung dari perjalanan hidup ini hanyalah salah satu: "Surga atau neraka". Tidak ada yang lain. Orang tua, istri, anak-anak, dan siapa pun orang-orang yang kita cintai, pun akan menghuni salah satu dari dua: Surga atau neraka.

Surga hanya diberikan oleh Allah سبحانه وتعلى kepada orang-orang yang ketika hidup di dunia benar-benar menjaga dirinya dengan baik. Dia amat menjaga apa pun yang Allah inginkan. Dia amat memelihara apa pun yang Allah perintahkan. Ini membuat Allah سبحانه وتعلى senang kepada orang tersebut. Sehingga ketika hidup di dunia hatinya selalu dibahagiakan. Kebutuhannya dicukupi. Kesulitannya dimudahkan. Bahkan Allah سبحانه وتعلى akan mendatangkan rezki untuknya dari arah yang tidak disangka-sangka.

Allah سبحانه وتعلى pun membelanya setiap kali orang itu membutuhkan pembelaan. Dia pun mengangkat derajat kemuliaannya, sehingga tidak dapat diruntuhkan oleh siapa pun jua. Allah akan membuat dunia ini bertekuk lutut kepadanya dan menghamba meladeninya.Bila saat ajalnya tiba, maka Allah akan mencabut nyawa orang yang taat penuh dengan keindahan dan kelezatan husnul khatimah. Ketika jasadnya dimasukkan ke lubang kubur, maka kubur itu akan menyambutnya bagaikan seorang ibu yang amat merindukan anaknya yang telah lama tak bersua. Kubur akan mendekapnya penuh dengan kehangatan dan kemesraan. Tidak ada siksa kubur baginya. Tidak ada padang mahsyar yang menyakitkan. Tidak pula siksa neraka jahannam. Semua itu diberikan khusus kepada siapa pun yang ketika hidup yang singkat di dunia ini, ia menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Akan tetapi, Allah pun menyediakan neraka jahannam, yang nyalanya berkobar-kobar. Kalau manusia berdiri di atas bara api dunia, maka api itu hanya akan membakar telapak kaki. Lain lagi api neraka. Bila seorang manusia berdiri di atas bara api neraka, atau bahkan hanya mengenakan sandal penghuni neraka, maka telapak kaki yang menempel itu akan membuat kepalanya mendidih.

Neraka disediakan bagi orang-orang yang tidak menyadari kedudukan mereka di hadapan Allah, bahwa dirinya itu adalah ciptaan Allah سبحانه وتعلى, milik Allah dan pasti kembali kepada Allah سبحانه وتعلى.
Wallohul Haadi Ilaa Sawaa-is Sabiil


Kiriman :pak Muadz

Tuhan sembilan senti

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
Sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.

Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.

Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.

Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.

Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,

sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.

Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,

jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.

Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

PUISI TAUFIQ ISMAIL TENTANG ROKOK : TUHAN SEMBILAN SENTI






oleh Ummu Khansa 

Minggu, April 03, 2011

saudaraku

يس أخي من ودني بلسانه و لكن أخى من ودني في النوائب و من ماله لي إذا كنت معدما و مالي له إن عض دهر بغارب فلا تحمدن عند الرخا مؤاخيا فقد تنكر الإخوان عند المصائب

saudaraku itu bukan yang hanya bisa mengucapkan kata cinta, tetapi saudaraku itu yang mencintai aku ketika aku tertimpa musibah

saudaraku itu juga dia yang merelakan hartanya untukku ketika aku dalam keadaan susah dan hartaku untuknya ketika dia juga dalam keadaan susah

janganlah kamu memuji orang yang bersaudara denganmu ketika kamu daam keadaan lapang, karena banyak orang yang meninggalkanmu ketika kamu tertimpa musibah